Gen Z Dihimbau Waspadai FOMO dan Doom Spending di Tengah Tekanan Ekonomi
Redaksi Tayang Kini · Kilas · 2 menit baca

Generasi Z menghadapi tekanan ekonomi dari naiknya harga kebutuhan pokok, pendapatan terbatas, dan ketatnya persaingan kerja. Sejumlah pihak, mulai dari ekonom Indef hingga praktisi perbankan digital, menyodorkan pandangan tentang cara bertahan, dari penguatan penghasilan hingga pengendalian diri dalam berbelanja.
Tayang · Diperbarui
Poin kunci
- 1Gen Z menghadapi tekanan ekonomi berupa kenaikan harga kebutuhan pokok, pendapatan terbatas, dan persaingan kerja yang ketat.[1]
- 2Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5%.[1]
- 3Rudini dari BCA Digital menilai masalah utama generasi muda adalah lemahnya pengendalian diri, bukan ketiadaan ilmu keuangan.[2]
- 4Formula alokasi gaji 10-20-30-40 direkomendasikan: 40% kebutuhan pokok, 20% tabungan, 30% cicilan, dan 10% hobi.[2]
- 5Sebuah artikel yang terbit 19 Oktober 2026 memuat delapan kebiasaan bagi Gen Z untuk menerapkan gaya hidup Islami, dengan pengingat agar tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahui kebenarannya.[3]
JAKARTA, TAYANG KINI — Tekanan ekonomi yang dirasakan Generasi Z datang dari tiga arah sekaligus: harga kebutuhan pokok yang naik, pendapatan yang terbatas, dan persaingan kerja yang ketat [1].
M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada di kisaran 5%. Ia dihubungi pada Jumat, 16 Oktober [1].
Menurut Rizal, berhemat saja tidak memadai bila penghasilan jalan di tempat sementara ongkos hidup terus merambat. "Penghematan saja tidak cukup apabila pendapatan stagnan sementara biaya hidup meningkat. Kuncinya adalah meningkatkan daya saing dan kapasitas penghasilan secara berkelanjutan," kata Rizal [1].
Dari sisi perilaku, Rudini dari BCA Digital berpendapat persoalan utama anak muda terletak pada lemahnya pengendalian diri. Ketiadaan pengetahuan keuangan, katanya, bukan akar masalahnya [2].
Sebagai pegangan praktis, formula alokasi gaji 10-20-30-40 direkomendasikan.
Di luar urusan angka, tulisan lain yang terbit pada 19 Oktober 2026 dengan penulis berinisial MBL-01 mengaitkan sikap berhati-hati dengan nilai keagamaan. Artikel tersebut memuat delapan kebiasaan yang disarankan bagi Gen Z untuk menerapkan gaya hidup Islami [3].
Al-Isra ayat 36 sebagai pengingat agar tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahui kebenarannya [3].
Analisis redaksi
Pandangan Rizal dan Rudini dapat dibaca sebagai dua sisi dari persoalan yang sama. Rizal menekankan sisi pendapatan: bila penghasilan stagnan, hemat saja berpotensi tidak cukup [1]. Rudini menyoroti sisi perilaku: pengendalian diri yang lemah dapat menggerus uang yang sebenarnya tersedia [2]. Keduanya patut dicermati bersamaan, sebab disiplin pengeluaran tanpa upaya menaikkan kapasitas penghasilan berpotensi menemui batasnya.
Formula 10-20-30-40 memberi kerangka konkret, tetapi pertanyaannya adalah seberapa cocok proporsi itu bagi mereka yang pendapatannya terbatas [2][1]. Dalam rumus tersebut, porsi cicilan (30%) lebih besar daripada tabungan (20%), sebuah komposisi yang dapat menjadi bahan perdebatan [2]. Sementara itu, pengingat agar tidak mengikuti sesuatu tanpa kejelasan dalam tulisan bernuansa keagamaan dapat dibaca sejalan dengan semangat menahan diri dari ikut-ikutan, meski sudut pandangnya berbeda [3].
Bagian ini memuat pandangan Redaksi Tayang Kini, terpisah dari fakta di atas.
Sumber
- [1] Bloomberg TechnozTips untuk Gen Z Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi ↗
- [2] Kompasiana.comGENGSI vs TABUNGAN: MEMBEDAH PSIKOLOGI KEUANGAN GEN Z Halaman 1 ↗
- [3] BAZNAS Prov. LampungGen Z dan Gaya Hidup Islami: Menjaga Iman di Tengah Perkembangan Zaman ↗